Jumat, 02 November 2012

Kalau Ganteng, Bolehlah Tanpa Kondom


SEMARANG, KOMPAS.com — Sejumlah pekerja seks komersial (PSK) yang biasa menjajakan diri di kawasan Jalan Pandanaran, Semarang, Jawa Tengah, mengaku selalu membawa kondom, baik di tas kecil yang dibawanya maupun di kantong celana yang dikenakannya.

Persiapan itu  dilakukan agar dalam memberikan "pelayanan", baik PSK maupun lelakinya, bisa merasa lebih aman. Namun, yang lebih penting menurut pengakuan salah satu penjaja seks di kawasan itu, penggunaan kondom penting agar tidak hamil. Sebab, ada juga yang mengaku masih duduk di bangku SMA.

“Kalau hamil bisa repot, saya nggak mau lagian masih sekolah. Banyak teman saya yang hamil, jadi kacau semuanya,” ungkap gadis asal pinggiran Kota Semarang ini.

Para PSK di kawasan ini memang tampak lebih muda, segar, berbadan bagus, serta berparas cantik dengan usia antara belasan tahun hingga sekitar 30 tahun. Mereka terbiasa menawarkan diri dengan harga lebih mahal, dan dianggap sebagai PSK kelas menengah di kawasan Kota Semarang.

Bermodalkan sepeda motor, mereka juga akan tampak lebih "kece" dalam mencari pelanggan. Selain untuk memudahkan lari dari kejaran petugas, tentunya.

Prostitusi di kawasan ini memang tidak terlalu vulgar seperti halnya praktik prostitusi pinggir jalan lainnya di Kota Semarang. Meskipun begitu, dalam semalam, mereka mengaku bisa memberikan pelayanan kepada empat hingga lima lelaki hidung belang.

Rata-rata dari mereka mengaku selalu meminta pelanggan untuk menggunakan kondom yang sudah mereka bawa. Namun, memang bisa saja ada perjanjian lain antara keduanya. “Kalau cowoknya ganteng bolehlah nggak pakai, nanti saya punya cara sendiri biar aman,”ungkapnya sambil tertawa lebar.

Terjun ke dunia prostitusi bagi gadis ini memang bukan tanpa sebab. Ia mengaku nekat menjual diri untuk membantu keluarganya meringankan biaya sekolah. Ia sendiri mengaku sudah relatif lama terjun ke dunia malam setelah dikenalkan oleh salah seorang temannya.

Ia mengatakan, pelanggan yang datang akan ramai saat akhir pekan atau liburan. Selain dari dalam kota, biasanya mereka selalu menemani tamu-tamu dari luar kota yang berkunjung ke Semarang.

Jika beruntung, bisa saja mendapatkan lelaki kaya yang mengajaknya menikmati malam di hotel berbintang. Tentu dengan tarif yang berbeda. Dalam mencari pelanggan, ia bisa juga sendirian ataupun melalui teman-temannya.

Mereka menjajakan diri dengan berjalan pelan-pelan di sepanjang jalan tersebut. Setelah transaksi dilakukan, mereka akan beriringan menuju sebuah hotel sesuai dengan kesepakatan. Pembayaran dilakukan setelah PSK memberikan pelayanan.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar