Senin, 26 November 2012

Determinasi!


KOMPAS.com -  Tiap-tiap bisnis mempunyai pesona dan dramanya sendiri. Usahawan yang memiliki determinasi dan berwatak optimis akan bertarung mati-matian sampai perusahaan yang buntung menjadi untung.

Banyak contoh tentang perusahaan yang berjuang keras sampai jadi sukses. Sebutlah, misalnya, Garuda Indonesia, Lion Air, sejumlah media elektronik, dan industri-industri besar.

Garuda Indonesia berhasil keluar dari wilayah kerugian setelah sukses melakukan transformasi. Perusahaan dengan Emirsyah Satar sebagai chief executive officer ini tentu tidak mudah meraih laba, tetapi dengan determinasi dan percaya bahwa dengan kesungguhan penuh sebuah tujuan dapat diraih.

Garuda melakukan efisiensi di semua lapangan. Rute yang tidak menguntungkan dihapus. Garuda pun menggunakan pesawat-pesawat baru dan konsisten menjaga mutu layanan. Hal lain yang menarik, Garuda melakukan diferensiasi yang ketat sehingga percaya diri bermain di wilayah harga premium. Justru dengan harga premium ini Garuda menjadi maskapai yang amat dikejar oleh konsumen.

Tahun 2005, Garuda (masih) rugi Rp 688 miliar. Tahun berikutnya masih merugi, tetapi sudah lebih kecil, hanya Rp 197 miliar. Garuda mulai membukukan laba pada tahun 2007, yakni Rp 60 miliar. Pada tahun 2008 dan 2009 laba sudah melejit, masing-masing Rp 975 miliar dan Rp 1,018 triliun. Tahun 2011, laba sebesar Rp 809 miliar. Untuk tahun 2012 (Januari-September 2012), keuntungan sudah mencapai 60,8 juta dollar AS, ekuivalen dengan Rp 583,6 miliar.

Angka-angka ini tidak saja menarik, tetapi juga dramatis. Namun yang lebih dramatis, Garuda meraih laba besar ketika maskapai penerbangan dari sejumlah negara maju dan notabene mempunyai tradisi bagus di bidang penerbangan, seperti KLM, JAL, dan British Airways, justru berjalan terengah-engah.

Tentu bukan hanya Garuda Indonesia yang meraih kinerja bagus. Grup Bosowa lima belas tahun silam hanyalah grup usaha yang belum dipandang publik. Akan tetapi, ketika perusahaan ini berani melakukan efisiensi, berfokus pada bisnis, menekankan keunikan usaha, dan berani berekspansi, Bosowa mampu meraih kinerja luar biasa. Grup usaha ini di antaranya dominan di sektor hasil perikanan, perkebunan, konstruksi, infrastruktur, dan pabrik semen. Beberapa tahun mendatang, pabrik semen Bosowa berpotensi menjadi raksasa baru produsen semen nasional. Produksinya mendekati 7 juta ton per tahun.

Hal yang sama dialami oleh perusahaan properti Agung Podomoro. Tahun 1995, perusahaan ini bukanlah perusahaan yang diperhitungkan. Tampilannya kalah jauh dari grup-grup usaha properti yang meraksasa. Namun, perusahaan ini bekerja ekstra keras. Dalam diam, mereka membangun banyak proyek yang dipandang publik. Sukses dengan proyek pertama, disusul proyek kedua, ketiga, keempat, keenam, dan seterusnya. Karakternya yang ekspansif tetapi prudent membuat ia dengan cepat meraih kinerja cemerlang. Kini perusahaan ini menjadi raksasa properti yang disegani.

Ketika sejumlah wartawan menanyakan mengapa ia demikian ekspansif, CEO Agung Podomoro Trihatma Haliman menyatakan, semangat sama sekali tidak boleh kendur. Kalau kecepatan roda perusahaan diperlambat, hal itu akan berdampak luas dan dalam pada kinerja usaha. Di luar aspek itu, hal yang amat penting dijaga, kata Trihatma, adalah determinasi, reputasi, dan mutu tinggi. ”Jangan pernah bermain-main dengan mutu dan komitmen. Begitu sekali saja dilanggar, besar sekali dampaknya,” ujar Trihatma.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar