Senin, 26 November 2012

Mengenal “Arsitek” BUMN Berkelas Dunia

VIVAnews –Pada awalnya, sejumlah perusahaan negara yang sekarang dikenal sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), adalah hasil nasionalisasi sejumlah perusahaan milik kolonial Belanda di era revolusi kemerdekaan.

Kini, sejumlah perusahaan itu bertumbuh dan menjadi pelopor perusahaan negara milik Republik Indonesia yang dikelola oleh satu kementerian, yaitu Kementerian Badan Usaha Milik Negara. Kementerian ini sekaligus menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam kepemilikan saham.
Bincang Asset BUMN oleh Wakil Menteri BUMN
Pengelolaan perusahaan negara itu dimulai sejak tahun 1973 yang kala itu peran Kementerian BUMN dipegang oleh Direktorat Persero dan Pengelolaan Keuangan Perusahaan Negara (PKPN), kemudian berubah menjadi Direktorat Persero dan Badan Usaha Negara (BUN), serta berganti Direktorat Badan Usaha Milik Negara hingga tahun 1993. 
Seiring dengan kebutuhan mengoptimalkan pengawasan dan pembinaan terhadap BUMN, pada 1993-1998, organisasi ini menjadi Eselon I dengan nama Direktorat Jenderal Pembinaan Badan Usaha Negara (DJ-PBUN). Mengingat peran, fungsi, dan kontribusi BUMN terhadap keuangan negara yang sangat signifikan, pada 1998-2000, pemerintah kembali mengubah bentuk organisasi ini menjadi Kementerian Negara Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN/Kepala Badan Pembinaan BUMN.

Pada 2000-2001, struktur ini dikembalikan lagi ke tingkat Eselon I di Departemen Keuangan. Pada 2001, ketika terjadi suksesi kepemimpinan, organisasi ini kembali menjadi setingkat departemen hingga saat ini.

Kementerian BUMN memiliki visi menjadi pembina BUMN yang profesional untuk meningkatkan nilai BUMN. Kementerian BUMN menerapkan berbagai langkah penting yakni mewujudkan organisasi modern sesuai dengan tata kelola pemerintah yang baik, meningkatkan daya saing BUMN di tingkat nasional, regional, dan internasional serta meningkatkan kontribusi BUMN pada ekonomi nasional.
bincang publik Kementerian BUMN dengan Publik
Kementerian BUMN kini dipimpin oleh Dahlan Iskan sebagai Menteri BUMN, Mahmuddin Yasin sebagai Wakil Menteri BUMN dengan empat kedeputian teknis, yaitu Deputi Bidang Usaha Industri Primer, Deputi Bidang Usaha Industri Strategis dan Manufaktur, Deputi Bidang Usaha Infrastruktur dan Logistik, dan Deputi Bidang Usaha Jasa. Selain itu, juga didukung Deputi Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis serta Sekretaris Kementerian BUMN, Wahyu Hidayat. 

Selama kurun 1998-2012, Kementerian BUMN telah mengalami beberapa kali pergantian kepemimpinan, yaitu:

1. Tanri Abeng (1998-2000), Menteri Negara Pendayagunaan BUMN/Kepala Badan Pembinaan BUMN;
2. I Nyoman Tjager (2000-2001), Dirjen Pembinaan BUMN;
3. Laksamana Sukardi (2001), Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN;
4. Rozy Munir (2001), Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN;
5. Laksamana Sukardi (2001-2004), Menteri BUMN;
6. Sugiharto (2004-2006), Menteri Negara BUMN;
7. Sofyan A. Djalil (2006-2009), Menteri Negara BUMN;
8. Mustafa Abubakar (2009-2011), Menteri Negara BUMN;
9. Dahlan Iskan (2011 - Sekarang), Menteri BUMN.

Dua jurus: restrukturisasi dan privatisasi

Dengan visi membawa perusahaan negara ke kancah global, Kementerian BUMN mewujudkan cita-cita dengan beragam upaya. Sebagai “arsitek” atau perancang perusahaan negara berkelas dunia, salah satu langkah yang diambil adalah menyehatkan perusahaan agar bisa bergerak efisien dan produktif dengan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG).

Tujuan itu menjadi pekerjaan besar dari Deputi Bidang Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis Kementerian BUMN. Kedeputian inilah yang memegang kunci terwujudnya mimpi besar pemerintah memiliki perusahaan nasional berkelas dunia. 

Upaya penyehatan BUMN harus diakui bukanlah pekerjaan mudah. Untuk menyehatkan perusahaan, Kementerian BUMN melaksanakan restrukturisasi yang memperhatikan asas biaya dan manfaat. 

Kementerian BUMN telah menetapkan inti program restrukturisasi 2010-2014 adalah pencapaian jumlah dan skala BUMN yang lebih ideal (rightsizing). Dengan tetap memperhatikan pasal 33 Undang-undang Dasar 1945, restrukturisasi sektoral akan diarahkan pada pembentukan holding company.
Dahlan Iskan menyaksikan MoU Semen Gresik dengan Geleximco Vietnam
Selain restrukturisasi, strategi lainnya dikenal dengan privatisasi BUMN. Privatisasi ini tak berarti pemerintah melepas sepenuhnya kepemilikan mereka terhadap perusahaan milik negara. Kementerian memastikan privatisasi merupakan salah satu cara memperluas kepemilikan masyarakat Indonesia atas perusahaan milik mereka sendiri. 

Dari 141 BUMN yang beroperasi saat ini, sebanyak 18 perusahaan telah diprivatisasi dan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Data per 20 Juli 2012 memperlihatkan, 18 BUMN hasil privatisasi ini mampu menunjukkan kinerja terbaik dan telah menguasai kapitalisasi pasar modal Indonesia senilai Rp904,2 triliun atau 23,46 persen. 

Ke-18 BUMN yang telah bertransformasi menjadi perusahaan publik itu adalah PT Telkom Tbk, PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank BRI Tbk, PT Perusahaan Gas Negara Tbk, PT Semen Gresik Tbk, PT Batubara Bukit Asam Tbk, PT Bank BNI Tbk, PT Aneka Tambang Tbk, dan PT Jasa Marga Tbk.

Serta, PT Kimia Farma Tbk, PT Indofarma Tbk, PT Timah Tbk, PT Adhi Karya Tbk, PT Wijaya Karya Tbk, PT Bank Tabungan Negara Tbk, PT Pembangunan Perumahan Tbk, PT Krakatau Steel Tbk, dan terakhir PT Garuda Indonesia Tbk .

Tak Cuma Mengancam di RI, Ertiga Juga Mematikan di India

VIVAnews - Ertiga kini jadi senjata ampuh Suzuki untuk bisa meraup keuntungan di negara berkembang. Di Indonesia, Ertiga berhasil membawa Suzuki menggeser Daihatsu di posisi kedua penjualan mobil Oktober lalu.

Hal yang sama juga terjadi di India. Suzuki Ertiga menjadi ancaman serius bagi Toyota di segmen kendaraan serba guna (Utility Vehicle). 

Maruti Suzuki dengan Ertiga mampu menggeser Toyota dari peringkat kedua domestik untuk penjualan UV September dan Oktober, di bawah Mahindra yang memimpin penjualan.

Cuma mengandalkan Ertiga, Maruti Suzuki berhasil mendongkrak pangsa pasar di segmen UV menjadi 15,4 persen, di mana tahun lalu hanya 2,1 persen. Sedangkan Toyota hanya 17,5 persen, turun jika dibandingkan tahun sebelumnya yakni 18 persen.

Sedangkan Mahindra masih kokoh menguasai pasar sampai 47,5 persen, turun dari tahun lalu 56,5 persen.

"Ertiga sangat membantu penjualan kami di pasar domestik. Ini jadi isyarat bagi kami untuk menyiapkan SUV mini yang menggunakan platform Ertiga," kata Mayank Pareek, Chief Operating Officer (sales & marketing), Maruti Suzuki, dilansir Indianautosblog.com, Senin 19 November 2012. 

Kelebihan & Kekurangan All New Suzuki Swift

VIVAnews - Setelah meluncurkan All New Swift di perhelatan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2012, September lalu, kini PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) mengundang para awak media termasuk VIVAnews untuk merasakan seberapa tangguh mobil yang diimpor utuh dari Thailand.

Bertempat di parkiran Plaza Senayan, Jakarta Selatan, 18 mobil All New Swift berderet dengan kelir putih yang siap dikendarai para jurnalis otomotif, untuk tes drive melalui rute Jakarta menuju Rancamaya dan kembali ke Jakarta.

Sebelum membeberkan bagaimana performa mobil yang memiliki empat pilihan, yaitu GL Manual (Rp163,1 juta), GL otomatis (Rp174,1 juta), GX Manual (Rp169,9 juta) dan GX Otomatis (Rp180,6 juta), VIVAnews pun akan mengupas terlebih dahulu beberapa bagian.

Eksterior
Jika dilihat-lihat sepintas, All New Swift memang tidak terlalu jauh berbeda dengan model lawas lainnya.

Adapun perbedaan pada bagian depan menjadi baru, seperti foglamp, grill atas dan bawah,combination headlamp, turn signal lamp pada spion.

Untuk perbedaan pada bagian belakang, terlihat pada lampu kombinasi, panel handle, dan wiper.

"All New Swift juga memiliki kelebihan dari sebelumnya, seperti panjang dari 3,695 mm menjadi 3,850 mm," jelas Davy Tuilan, Direktur Penjualan SIS.

All New Swift memiliki panjang 3,850 mm, lebar 1,695 mm, dan tinggi 1,510 mm. Tidak hanya itu jarak poros roda (wheelbase) juga lebih panjang menjadi 2,430 mm, serta jarak pijak depan dan belakang, yaitu 1,480 mm dan 1,485 mm.

Interior
Saat memasuki kabin, kesan mewah terasa, dengan balutan warna hitam dan sedikit silver menghiasi aura kabin mulai dari dashboard dan jok.

Pada bagian dashbor speedometer dilengkapi MID (Multi-Information Display), sistem audio lengkap (aux input, soket usb) yang juga dapat dikontrol dari lingkar kemudi sehingga memudahkan pengemudi untuk mengatur audio, ditambah lagi enam spekaer yang dibenamkan di dalamnya.

Saat mencoba duduk di bagian penumpang posisi kaki dan lutut dapat terbilang bebas, hanya saja, saat kaki membentur jok depan, hal tersebut dapat terasa dan mengganggu kenyamanan pengemudi serta penumpang depan.

Tidak hanya itu, saat melihat kaca spion tengah bagian dalam, sudut ruang belakang sedikit terlihat sempit dan tidak leluasa. Terlebih lagi jika penumpang belakang berjumlah tiga orang.

Performa
Ketika duduk di belakang kemudi, kita tidak memerlukan kunci, pasalnya mobil ini dilengkapi fitur push start botton untuk menyalakannya. Posisi stir juga bisa diubah (naik-turun dan depan-belakang).

Saat menancap gas, All New Swift sangat responsif. Lingkar kemudi sangat ringan sehingga kesan sporty pun dapat terasa, ditambah lagi dengan transmisi manual dengan lima percepatan.

Untuk masalah dapur pacu, All New Swift kali ini menggunakan kapasitas mesin 1.4 liter, atau lebih kecil dari pada generasi terdahulu hanya 1.5 liter.

Mesin itu mampu menyemburkan tenaga hingga 95 Ps pada 6.000 rpm, dengan torsi maksimal 130 Nm pada 4.000 rpm.

Meski mesin lebih kecil, performa tidak lantas hilang dan tetap tangguh. Saat beberapa kaliVIVAnews membetotnya di jalur tol, jarum jam pada speedometer pun tembus 150 km/jam, namun sayang meski diperkirakan masih dapat mencapai kecepatan lebih, keadaan jalan yang cukup ramai membuat VIVAnews sulit untuk menancapkan pedal lebih dalam.

Masih di jalur tol, VIVAnews yang memacu Swift dengan rata-rata kecepatan 100 km/jam. Merasakan mobil ini sangat ringan terutama ketikan melakukan manuver.

Tidak hanya itu, suspensi yang digunakan juga cukup mumpuni. Swift anyar ini menggunakan suspensi depan dengan MacPherson struts with coil springs, ditambah stabilizer dan coil springs membuat performa anti limbung/ roll stiffness tanpa perlu menambah bobot.

Bodi All New Swift yang lebih panjang, juga tidak menurunkan performa. Karena saat berlari ditambah liukan dengan menyalip beberapa mobil di depan, mobil terbilang sangat lincah.

Sistem keamanan
All New Swift dilengkapi airbag ganda-pengemudi dan penumpang, sistem pengereman ABS (Anti Brake System), BAS (Bost Assist System).

Ertiga Matik & AC Double Blower Segera Meluncur

VIVAnews - Ertiga cukup sukses di pasar otomotif Tanah Air, namun keberadaanya hingga kini masih terbilang kurang komplit. Karena belum dilengkapi dengan transmisi otomatis serta penambahan AC double blower.

Kekurangan itu disadari betul oleh PT Suzuki Indomobil Sales (SIS). Mereka pun menyatakan siap menghadirkan Ertiga versi transmisi otomatis dalam waktu dekat. 

"Tidak lama lagi, hanya menunggu waktu yang tetap," kata Direktur Sales dan Marketing PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), Endro Nugroho, Senin 26 November 2012.

Meski begitu, Endro belum mau membeberkan secara detail waktu peluncuran tersebut. Tapi kemungkinan besar Ertiga versi matik dan double blower akan hadir awal tahun 2013. 

Pasalnya, beberapa waktu lalu, Suzuki menyatakan akan meluncurkan satu produk terbaru di akhir tahun yakni, Grand Vitara Facelift.

Sebelumnya, Suzuki Ertiga yang meluncur pada April 2012 lalu, hadir dengan tiga tipe, yakni Ertiga GA (tipe terendah) yang dibanderol Rp143 juta, tipe GL Rp153 juta dan GX (tipe tertinggi) Rp165 juta.

Untuk dapur pacu, Ertiga mengandalkan mesin K14B 1.4 liter bertenaga 95 daya kuda yang disalurkan pada roda depan dengan transmisi manual 5-percepatan.

Laku Keras, Ertiga Bidik 20% Pangsa Pasar


VIVAnews - Sejak Suzuki Ertiga diluncurkan pada April 2012 lalu di Indonesia, PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) menyatakan telah menjual sebanyak 28 ribu unit hingga akhir Oktober 2012.
Direktur Sales PT SIS Davy Tuilan mengatakan kunci keberhasilan varian terbaru dari Suzuki berjenis Multi Porpose Vehicle tersebut adalah strategi pemasaran perusahaan yang berbeda.
"Eritiga berbeda, lebih kompetitif. Sebab, harga yang diberikan tidak hanya di Jabodetabek, melainkan nasional. Jadi, meski semakin jauh dari Jakarta, harganya tidak jauh berbeda," jelas Davy, Minggu 25 November 2012.
Penjualan Suzuki Ertiga yang awalnya ditargetkan mengambil pangsa pasar sebesar 15 persen, kata dia, di puncak produksinya pada September lalu malah mampu meningkatkan hingga 19 persen. "Pantaslah kalau kompetitor kami gerah, 19 persen pasar berhasil kita ambil," Davy mengklaim.
Tingginya minat masyarakat akan Suzuki Ertiga, menurut Davy, membuat SIS menargetkan penjualan hingga akhir tahun akan mencapai sebesar 20 persen dari pangsa pasar. "Semoga tambah 10 ribu unit, dari 28 ribu menjadi 38 ribu unit sampai akhir tahun ini," kata dia.

Samsung Siapkan Prosesor 8 "Core" untuk Tablet

KOMPAS.com - Setelah menelurkan Exynos 4 Quad dan Exynos 5 Dual tahun ini, Samsung disebut sedang menyiapkan sebuah prosesor 8 core. 

Prosesor delapan inti untuk perangkat mobile, seperti smartphone dan tablet tersebut, rencananya akan diumumkan pada Konferensi International Solid-State Circuits 19 Februari tahun depan.

Seperti dikutip dari Phone Arena, prosesor Samsung ini kabarnya dibangun berdasarkan konsep "big.LITTLE.computing" dari ARM dimana sejumlah inti utama prosesor dilengkapi dengan beberapa inti "pendamping".

Dalam hal ini, prosesor Samsung tersebut akan memiliki empat buah core ARM Cortex-A15 berkecepatan 1,8 GHz untuk menangani tugas-tugas berat, beserta empat buah core ARM Cortex-A7 yang berjalan di frekuensi 1,2 GHz yang akan menangani pemrosesan ringan.

Konsep tersebut mirip dengan "companion core" yang diterapkan Nvidia dalam Tegra 3 (antara lain dipakai di tablet Goolge Nexus 7 dan HTC One X) di mana empat buah inti prosesor dibantu oleh core kelima yang menangani tugas-tugas ringan untuk menghemat baterai.

Masih belum diketahui kapan perangkat dengan chip yang dibuat melalui fabrikasi 28 nanometer ini akan terealisasi. Namun, karena berpotensi memiliki ukuran fisik yang besar, ada kemungkinan bahwa ia akan lebih dahulu diterapkan pada perangkat tablet.

Produsen BlackBerry Akui Kesalahan Masa Lalu

KOMPAS.com - Belakangan, CEO Research in Motion (RIM) Thorsten Heins sering tampil di media. Setelah menyatakan optimisme soal platform BlackBerry 10 yang disebutnya bakal disukai konsumen dan bahkan bisa menggantikan laptop, bos BlackBerry ini mengungkapkan perubahan yang dilakukannya pada RIM dalam sebuah wawancara dengan Wired.

Setelah mengambilalih posisi pimpinan eksekutif di RIM, Heins berusaha membuat RIM menjadi perusahaan yang lebih gesit, cepat dalam membuat keputusan tanpa ditingkahi birokrasi yang bertele-tele.

"Kami mengakui kesalahan yang diperbuat. Kami bertanggung jawab dan mengubah beberapa hal," ujarnya, seperti dikutip oleh BGR. "Melalui pengamatan, kami menyadari bahwa struktur manajemen terlalu gemuk. Kami menyingkirkan elemen-elemen manajemen yang tidak diperlukan melalui konsensus."

"Kami perlu bekerja sama dan memperbaikinya," imbuh Heins.

Cara yang diinginkan Heins untuk menjalankan perusahaannya mirip dengan yang diterapkan mendiang Steve Jobs di Apple. Saat Heins ingin sesuatu, dia akan langsung menuju pihak terkait yang diinstruksikan untuk mewujudkannya. Tanpa melalui komite, rapat, atau diskusi yang akan memperlambat proses.

Soal ini, Heins mengaku baru "setengah jalan". Dia mengatakan masih di tengah-tengah proses perombakan manajemen.

Biarpun menyatakan tak bakal meninggalkan pelanggan BlackBerry dari kalangan konsumer, pria asal Jerman ini juga mengatakan bahwa fokus perusahaannya tetap pada kalangan pemerintah dan korporat.

"Di situlah saya ingin menjadi yang terdepan. Tapi itu tak berarti saya akan menyerah di segmen smartphone dan tablet. Dua perangkat itu adalah bagian dari rencana model bisnis masa depan saya," ujar Heins, seraya menambahkan bahwa BlackBerry 10 sudah mendapat sertifikasi dari pemerintah Amerika Serikat dan Kanada.

"Saya tak akan menyebut ingin jadi nomer satu di segmen smartphone, tetapi kami membangun platform ini untuk menjadi pemimpin inovasi di dunia mobile computing," ujarnya.

Menjelang kemunculan BlackBerry 10 pada Januari tahun depan, pandangan gelap soal masa depan RIM perlahan-lahan mengalami perubahan. Perusahaan ini pun diprediksi bakal bangkit dengan andalan barunya itu.